Masih Tersimpan Begitu Rapi

Andalan

Cerita yang sempat kita ukir, mulai melebur bersama perasaan yang telah usai. Aku tidak pernah berniat menghapus setiap kenangan yang pernah kita rangkai, aku juga tidak ingin memaksamu untuk selalu mengingatnya sepanjang hidupmu.

Kisah yang pernah kita rajut dengan begitu indahnya, sudah tersimpan dengan baik dalam ruang kecil di hatiku. Cukuplah ia terkenang kalau aku benar-benar menginginkannya. Tapi entah mengapa kenangan itu satu-persatu muncul begitu saja. Membuat pertahanan yang selama ini aku bangun seolah tak sanggup untuk menahannya.

Jujur aku tidak ingin terjebak oleh perasaan yang telah usai, tetapi ruang kecil yang tertutup rapat sebelumnya sedang memaksa terbuka. Lantas membiarkannya menari hingga ia merasa lelah lalu kembali. Melawan kehadirannya hanya akan menimbulkan pemberontakan yang tidak berkesudahan.

Berawal dari secarik kertas yang, sengaja kau selipkan dalam buku pemberianmu. Aku menyimpannya dalam kotak besar berwarna jingga di bawah meja belajarku. Sekali lagi aku tak pernah berniat menghapus kenangan itu, aku selalu menyimpannya dengan baik hingga detik ini.

Hari ini adalah pembuktiannya, buku pemberianmu masih tersimpan rapi bersama secarik kertas itu, tidak ada goresan sedikit pun.  Tanpa sengaja buku itu terbuka oleh adik sepupuku yang sejak kemarin datang ke rumah. Ia mengacak-acak kamarku, melihat semua koleksi buku yang aku miliki. Aku heran sejak kapan ia mulai tertarik dengan kotak jingga itu, ia dengan polosnya membuka kotak itu tanpa meminta izin sebelumya.

***

Aku yang baru pulang kerja memutuskan untuk langsung ke kamarku, karena hari ini terasa begitu panjang membuatku sedikit lelah dan ingin segera menumpahkan penat di atas kasur empuk milikku. Saat pintu kamar kubuka lebar, surprise, aku dibuat melongo oleh makhluk kecil itu. Kamarku yang indah nan rapi telah disulap menjadi tempat sirkus olehnya.

“Ya ampun, ini kamar atau tempat bermain?”, dengan suara yang sedikit meninggi.

“Eh, kak Ayumi sudah pulang?”. Ia menjawab tanpa rasa bersalah

Aku semakin dibuat geram, melihat ia sedang memegang buku yang telah tersimpan dan tidak pernah kubuka itu. Dengan cekatan aku mengambil buku itu dari tangannya, sontak ia kaget dan bingung.

Hampir saja, gumamku.

“Algi, sebelumnya kakak sudah pernah bilang kan. Jangan membuka apapun tanpa seizin kakak.” Aku mencoba tenang agar ia tidak curiga.

“Aku bosan hanya menonton TV sejak tadi pagi, aku hanya ingin melihat koleksi buku kakak”

“Tapi bisa kan, kamu mengembalikan barang yang telah kamu lihat pada tempatnya?”

“Ini mau aku kembalikan kak.” Ia tetap tidak mau disalahkan.

“Baiklah, ayok kita rapikan sama-sama”

Kamarku kembali rapi seperti sebelumnya, sekarang Algi terlihat sibuk membaca komik yang baru saja aku beli. Komik tersebut berhasil mengalihkan perhatiannya dari buku yang telah aku rebut darinya. Beruntung ia tidak curiga sedikit pun terhadapku.

Algi memang sedikit bandel, tapi sejak kelas tiga SD ia sudah gemar membaca buku. Saat ini komik menjadi bacaan favoritnya, kalau ada komik di depan matanya, ia langsung mengambilnya tanpa basi-basi.

***

Giliran aku yang terbawa suasana, buku yang telah lama aku simpan itu sekarang ada di tanganku, mengingatkanku tentang dia yang telah pergi. Ingin segera kusimpan kembali, walaupun hati ini bersikeras untuk membukanya. Namun, secarik kertas itu jatuh begitu saja ke lantai tanpa diminta.

Pertahananku akhirnya roboh, aku segera mengambil kertas itu sebelum orang lain melihatnya. Tulisan itu, kenapa malah terbuka diwaktu yang tidak tepat seperti ini, aku membatin. Aku berusaha tegar, jangan sampai semua yang telah aku simpan begitu rapi kembali menghantui pikiranku.

Bukan karena aku masih menyimpan rasa atas dirinya, hanya saja kata-kata yang ia tulis membuatku tertahan dalam kebingungan. Sempat terpikir olehku, untuk menanyakan langsung setiap kata yang ia tulis. Namun aku memilih bungkam karena sebuah alasan yang tidak bisa aku jelaskan.

Huffttt, aku menarik napas panjang.

Aku harus segera menyudahi kenangan tentangnya, kembali menyimpannya dengan baik seperti hari-hari sebelumnya. Aku tetap berharap suatu saat, jawaban atas kenangan yang ia tinggalkan bisa kudapatkan. Kalau akhirnya kenyataan mengatakan sebaliknya, aku sudah cukup bahagia atas cerita yang pernah ter-ukir.

Ia memang pergi–tapi tidak pernah benar-benar pergi. Ia memang hilang–tapi  sejatinya ia masih ada di sini. Masih tersimpan begitu rapi. Aku tidak perlu bersusah payah untuk melupakan, karena akan terlalu sakit kalau terus dipaksakan. Kutekankan sekali lagi aku tak pernah berniat menghapus kenangan itu, aku hanya membiarkannya lepas dan tersimpan di tempat yang seharusnya.

-End-

Kau Selalu Saja Begitu

Pagi-pagi, sebelum mentari menempati singgasananya di ufuk timur. Tanah masih terlihat basah terguyur embun subuh tadi, aromanya yang lembab menyeruap ke hidung. Kau sudah siap untuk berangkat, mencari titik terang sang fajar untuk menghangatkan tubuh.

Kau tak pernah merepotkan orang lain, kau lebih memilih berjalan kaki, menyusuri rerumputan yang mendayu-dayu tertiup angin. Dinginnya udara pagi tak mampu menghentikan langkahmu. Tanpa kenal lelah, terus berjalan hingga kau merasa waktunya pulang.

Kau selalu menyulam senyum di bibirmu saat ada yang menyapa, keramahanmu sudah diketahui seantero negeri. Tak akan ada yang berani mengusikmu, mereka terlihat segan, dan teramat menghargaimu.

Kau tak perlu pengakuan dari siapapun, kau tak mengharapkan pujian, pun dengan penghormatan. Kau hanya ingin memberikan kesejukan di hati semua orang yang melihatmu. Cukuplah senyum berbalas senyum, cukuplah salam berbalas salam, cukuplah hati berbalas hati.

Kau selalu saja begitu, apa adanya dengan keindahan hati yang kau punya, dan aku akan selalu mengagumimu–sampai nanti.

Ada Apa Dengan ‘dia’?

Dia Marah

Sudah satu minggu berlalu sejak terakhir kali aku menulis di blog ini. Blog yang isinya cuma tiga tulisan ini terpaksa aku tinggalkan, karena si ‘dia’ tiba-tiba ngambek. Aku gak tahu kenapa ia seperti itu, aku ajak bicara–ia membuang muka, aku ajak jalan–ia tak kunjung bergerak.

Selama satu minggu ini aku terus membujuknya, agar ‘dia’ mau aku ajak bercerita lagi seperti biasanya. Segala hal telah aku coba agar ia merasa senang, tapi apalah daya semua usaha yang aku lakukan tak kunjung membuahkan hasil. Ada Apa Dengan ’dia’?

Aku memutuskan untuk tidak menegurnya selama beberapa hari ke depan. Mungkin ia butuh waktu untuk sendiri, hingga ia sadar aku masih membutuhkannya. Nanti kalau ada yang baru–barulah ‘dia’ aku buang, eits gak lah. Semoga ia tak pernah membaca tulisan ini.

Terlalu lama menunggu membuatku menjadi bosan, apa aku harus membawanya ke psikolog untuk menerjemahkan sikapnya yang aneh belakangan ini. Tapi dompetku lagi mengalami masa kritis, aku lelah memikirkan solusi agar ‘dia’ mau menuruti perintahku lagi. Ayolah siapa pun kalian, bantu aku memecahkan celengan situasi ini. Aku semakin jengkel!

Pahlawan Datang

Akhirnya. Setelah lama menunggu sang pahlawan datang, aku menjelaskan semua keluhanku selama ini. Alhamdulillah, ia mau mengulurkan tangannya untuk membantuku mengatasi ‘dia’. Namanya Adie, kebetulan ia anak Coding yang bisa memecahkan masalah tanpa masalah. Sudah ahlinya euy…

Aku menyerahkan ‘dia’ ke Adie untuk segera ditangani, beruntung ‘dia’ tak menolak saat dibawa. Ke-esokan harinya Adie menghubungiku.

“Halo Mi, terlalu banyak program yang berat, RAM-nya tak mampu menampung program tersebut, karena kapasitas yang kecil. Sampah juga banyak!.”

“Sampah, hmmm…, kok bisa? Minta tolong bersihkan ‘dia’ sekali.”

“Mana aku tahu, iya ini sedang aku lakukan. Nanti sore aku anterin ke rumahmu.”

“Okeh, terima kasih.”

Pantas saja ‘dia’ ngambek berkepanjangan, si ‘dia’ kurang mendapatkan perhatianku. Aku memberikannya banyak perintah dan tugas, membuatnya lelah hingga akhirnya menyerah. Ternyata ‘dia’ sakit, tapi aku tak menyadari hal tersebut.

Aku Sadar

Maaf ya, kalau selama ini aku memberikan banyak beban kepadamu.

“Assalamu’alaikum.” Adie membuyarkan lamunanku.

“Wa’alaikumsalam, masuk aja Die”

Akhirnya ‘dia’ sembuh juga, aku senang sekali. Sudah tak sabar untuk mengajaknya menulis lagi, membagi cerita tentang dia, kamu, atau pun mereka. Adie menjelaskan banyak hal tentang kondisi ‘dia’. ‘Dia’ memang telah sembuh–tapi tak bisa digunakan seperti sebelumnya.

Adie berpesan, “Jangan terlalu sering digunakan untuk nonton, dalam sehari berilah ‘dia’ waktu istirahat yang cukup. Jangan terlalu banyak menyimpan program, karena kapasitas RAM laptop kamu terlalu kecil, untuk mengatasinya coba tambahkan kapasitas RAM-nya. Jangan menjalankan program terlalu banyak dalam satu waktu, itu menyebabkan kerja komponen utama laptop menjadi berat, itu membuat laptop kamu jadi lelet dan sakit. Manusia saja bisa lelah dan sakit jika dipaksa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, apa lagi ‘dia’ yang sejatinya hanya sebuah alat. Walaupun sebenarnya ‘dia’ lebih pintar dari kamu. Rawat ‘dia’ dengan baik, sayangi ‘dia’, jadilah pemilik yang baik.”

Baiklah. Kata-kata Adie kali ini benar, walaupun kalimat terakhir tidak sedikit benar. Aku tidak akan memaksa ‘dia’ lagi. Janjiiiiiiii……………

Mohon Doa Restu

Oke ini hari kedua saya menjejakkan kaki di dunia perblogan, dari bahasanya keren euy. Kali ini saya tidak ingin berpanjang lebar, karena saya lagi buru-buru. Saya hanya ingin membagi cerita tentang ketertarikan saya pada dunia bloging. Awalnya saya sering stalking beberapa blog orang, banyak sekali informasi yang saya peroleh dari sana. Mereka menceritakan pengalamannya, menceritakan perasaannya, tentang mimpi mereka, tentang rencana, tentang perjalanan, dan masih banyak lagi.

Sepertinya ngeblog itu asyik ya, pikir saya. Setelah sekian lama menjadi silent reader, mengikuti setiap perkembangan dari beberapa bloger, lama berpikir akhirnya saya memutuskan untuk membuat blog. Rencana ini saya ceritakan kepada teman saya. Dia berkata, “Ya, buat aja Mi. Biar kamu makin terbiasa nulis”. okeh saya sudah punya satu pendukung lagi, jadi tambah semangat deh.

Sebelumnya Pak Ciq yang saya kenal lewat blognya itu pun, menganjurkan agar saya membuat blog setelah mengirim beberapa tulisan. Beliau berkata, “Kamu uda bisa buat blog sekarang, tunjukkan bahwa seorang Hilmi ternyata girang menulis”. Pak Ciq sering bilang kalau saya ini berbakat, tapi saya sedikit ragu, Apa iya saya berbakat?. Mungkin itu semacam motivasi yang sengaja Pak Ciq katakan, agar saya lebih rajin dan suka menulis. Entahlah, Biar waktu yang menjawab kalau ia sempat.

Selama ini saya orang yang terlampau malas, menuntut otak dan mata terlalu lama di depan laptop itu membuat saya jenuh, dan mengantuk, padahal saya baru bangun. Ini sifat yang kurang baik, harus saya rubah, pokoknya harus BERUBAH!. Kata ini sengaja saya tekankan supaya saya lebih semangat untuk BERUBAH.

Sampai sejauh ini saya masih saja kesulitan memilih kata yang tepat untuk ditulis. Kata Pak Ciq saya harus banyak membaca tulisan apa saja, seremeh sekalipun, selama itu masih bisa dibaca. Tulisan saya masih banyak kurangnya, baik dari segi EBI, dan lainnya. Saya sadar betul, kalau saya harus banyak-banyak membaca, terus membaca, jangan pernah bosan, sampai tak ada yang bisa dibaca lagi. Karena bacaan saya selama ini itu-itu saja, membuat tulisan saya jadi itu-itu saja. Membaca kalau lagi mood, dan lebih sering malasnya. Lagi-lagi malas menjadi sebuah penghalang, ini macam penyakit akut dalam diri saya.

Tuh kan jadi panjang, dan lebar sama dengan luas. Akhir kata, semoga saya bisa istiqomah ya nulisnya teman-teman, Pak Ciq mohon doa restu. 😀

Menulis: Sebuah Pengantar

Hobby menulis di blog belum sepenuhnya melekat dalam diri saya. Tulisan ini masih terkesan lugu, polos, dan apa adanya. Maklumlah, saya penulis yang masih amatir.

Saya seperti telur ayam yang dierami berpuluh tahun, akhirnya menetas setelah menemukan tempat yang jauh lebih hangat, tenang, dan damai di dunia yang fana ini. Jadilah saya anak itik, eh anggaplah seperti itu, karena terlalu lama dalam cangkang membuat saya bingung induk sebenarnya itu siapa. Saat membuka mata untuk pertama kalinya, terlihat banyak spesies, saya sendiri nggak tahu menyebutnya apa. Nah lo, saya sendiri bingung apa lagi kalian. Ah, sudahlah lupakan perihal hadirnya saya yang tidak jelas ini.

Pak Ciq berkata, “Menulis merupakan aktifitas yang menguras otak tapi, sangat menyenangkan kalau sudah lama digeluti. Sebelum menulis kita juga harus gemar membaca buku, sebagai asupan utama otak dalam memperkaya kosa kata, dan imajinasi. Membaca, dan menulis merupakan dua aktifitas yang tidak dapat dipisahkan.”

Saya rasa semua aktifitas itu sama, kita menjadi bisa jika sudah terbiasa. Namun,  untuk membiasakan diri, melakukan hal rutin setiap hari, membutuhkan proses yang tidak singkat. Demi mewujudkannya kita butuh tekad, dan semangat yang tinggi, ini semacam motivasi diri. Seharusnya saya tidak menjelaskan hal ini, gak penting banget deh, mari lewatkan atau bahasa kerennya skip aja yes.

Saya, saat ini sedang berusaha membiasakan diri untuk menulis di blog, semoga saya bisa nulis 1 cerpen, puisi atau curhatan ringan, dalam seminggu. Katanya “Pelan-pelan asal tetap jalan”, siput aja bisa sampai tujuan walaupun jalannya pelan. Mungkin saya harus banyak belajar dari para siput, tentang kesabaran, semangat, pun rasa syukur. Sepertinya saya sedikit melenceng dari tujuan. Hulala…, kenapa jadi curhat gini ya.

Tulisan ini hanya sebuah pengantar, apa adanya, dan memiliki banyak kekurangan. Saya aslinya pemalu banget. Saya sempat ragu, dan banyak mikir sebelum memosting tulisan ini. Berhubung ini tulisan pertama saya di blog. Sebagai pembuka, sekaligus salam kenal untuk kalian yang hendak mampir.

Yeay, akhirnya saya bisa nulis!

Saking senangnya sudah bisa ngeblog. Saya jadi kurang fokus, dan lupa memperkenalkan diri. Hai, yang ada di sana, di situ, dan di mana-mana. Ibu, Bapak, Kakak, Adik, Abang, E..Neng, perkenalkan nama saya Siti Hilmi Hajar, kalian bisa memanggil saya Hilmi atau apa saja, asal tidak keluar dari ketiga kata tersebut.

Saya orang yang, hmm…anu…eee…, aduh ribet dah. Semoga saya bisa lebih banyak bercerita dihari-hari berikutnya melalui blog ini. Hanya ini yang bisa saya tulis, berhubung saya masih pemula, dan harus banyak belajar lagi dari para sepuh yang, tentunya sudah girang menulis, dan lebih berpengalaman. Hanya ini pengantar dari saya, mohon maaf tulisan saya masih amburadul.

Matur nuhun, tampi asih, terima kasih, thank you. 🙂